Ilmuwan Ubah 1.200 Satelit Starlink jadi Pemindai Atmosfer Bumi

·

·

image 10

Ringkasan: Tim peneliti Kyoto University memakai data orbit publik dari sekitar 1.200 satelit Starlink untuk memetakan kepadatan termosfer — lapisan atmosfer tipis di ketinggian sekitar 482 km yang selama ini sulit diamati langsung. Hasilnya konsisten dengan data satelit SWARM milik European Space Agency (ESA), dan berpotensi memperbaiki prediksi pergerakan satelit di orbit yang makin padat.

Apa Itu Riset “Starlink Sebagai Pemindai Atmosfer” Ini?

Satelit Starlink digunakan untuk memetakan kepadatan termosfer Bumi

Riset ini adalah metode baru dari tim Kyoto University yang memanfaatkan data orbit publik sekitar 1.200 satelit Starlink untuk merekonstruksi kepadatan termosfer — lapisan atmosfer netral di ketinggian 100–1.000 km — pada altitude sekitar 482 kilometer. Alih-alih membangun instrumen pengukur baru, tim ini memanfaatkan konstelasi satelit yang sudah ada sebagai jaringan sensor tidak sengaja, dengan menganalisis bagaimana hambatan atmosfer (drag) secara perlahan mengubah orbit ribuan satelit tersebut.

Studi ini dipimpin oleh Mamoru Yamamoto dari Research Institute for Sustainable Humanosphere, Kyoto University, dan dipublikasikan di jurnal Earth, Planets and Space. Menurut laporan yang dirilis pihak universitas dan diliput ulang oleh ScienceDaily serta Phys.org pada Agustus 2026, ini merupakan analisis tomografi pertama dari jenisnya untuk termosfer memakai data satelit komersial publik.

Mengapa Memetakan Termosfer Itu Penting di 2026?

Termosfer memengaruhi pergerakan satelit di orbit rendah Bumi

Ruang di sekitar Bumi semakin padat. Ribuan satelit aktif dan puing antariksa kini berbagi orbit rendah Bumi (low Earth orbit), dan bahkan pada ketinggian ratusan kilometer, jejak tipis atmosfer masih cukup kuat untuk memperlambat satelit secara bertahap. Informasi kepadatan atmosfer yang akurat pada ketinggian ini penting untuk memprediksi pergerakan satelit dan mengurangi risiko tabrakan antarsatelit maupun dengan puing antariksa.

Lebih dari 99 persen atmosfer atas terdiri dari gas netral yang disebut termosfer, sementara ionosfer — lapisan gas terionisasi — hanya menyumbang kurang dari 1 persen. Karena partikel terionisasi memengaruhi propagasi gelombang radio, ionosfer relatif mudah dipantau menggunakan instrumen radio konvensional. Termosfer jauh lebih sulit diamati karena tidak meninggalkan jejak radio yang jelas, sehingga peneliti selama ini bergantung pada instrumen khusus, model simulasi, atau pengukuran di sepanjang jalur satelit tunggal.

Kondisi ini yang mendorong tim Kyoto University mencari pendekatan alternatif: memanfaatkan satelit yang sudah beroperasi di orbit sebagai alat ukur tidak langsung, bukan membangun instrumen baru dari nol.

Bagaimana Cara Kerja Metode Tomografi Ini?

Cara kerja tomografi menggunakan data orbit satelit Starlink

Peneliti menerapkan tomografi — teknik yang lazim dipakai dalam pencitraan medis seperti CT scan — pada data orbit satelit Starlink yang dipublikasikan secara terbuka. Prinsipnya: mengukur objek yang tidak transparan dengan mengamati apa yang melewatinya dari berbagai sudut. Dalam kasus ini, objek yang “melewati” atmosfer adalah satelit, dan besaran yang diukur adalah hambatan atmosfer (drag) yang dialaminya.

Tim memakai data ephemeris Starlink yang dipublikasikan SpaceX untuk keperluan penapisan tabrakan (collision screening) dan keperluan keselamatan ruang angkasa lain. Data ini berisi vektor posisi dan kecepatan pada interval satu menit untuk prediksi 72 jam ke depan, dan diperbarui sekitar setiap delapan jam. Dengan mengamati bagaimana orbit satelit meluruh secara bertahap akibat drag, peneliti dapat memperkirakan kepadatan termosfer di sekitar lintasan tersebut.

Langkah teknis yang dilakukan tim meliputi:

  1. Propagasi orbit: peneliti memproyeksikan orbit satelit menggunakan General Mission Analysis Tool (GMAT) milik NASA.
  2. Koreksi manuver: manuver satelit terdeteksi pada sekitar 80 persen dataset awal, sehingga harus dikoreksi terlebih dahulu agar tidak salah diinterpretasikan sebagai efek drag atmosfer murni.
  3. Estimasi kepadatan: perbedaan antara energi orbit yang teramati dan energi orbit tanpa drag dihitung untuk menurunkan estimasi kepadatan termosfer di sekitar masing-masing satelit.
  4. Pemodelan spasial: kepadatan dimodelkan sebagai medan geografis memakai spherical harmonics — teknik matematis untuk merepresentasikan pola global — dengan struktur orde terendah (empat koefisien independen) dan skala tinggi vertikal tetap sebesar 60 km.

Analisis awal ini mencakup periode 1–7 September 2025, memakai satu lapisan (shell) orbit Starlink pada ketinggian 482 km dengan inklinasi 53 derajat. Tim menjalankan 19 kali analisis, dengan sebagian besar kasus melibatkan sekitar 850–1.100 satelit per analisis — mendekati angka bulat 1.200 satelit yang sering disebut media.

Data Kunci dari Studi Kyoto University

Data utama riset Kyoto University menggunakan satelit Starlink

Data berikut diambil dari publikasi resmi Kyoto University dan liputan Phys.org/ScienceDaily/SciTechDaily Agustus 2026 — bukan riset internal redaksi.

ParameterNilaiSumber
Jumlah satelit Starlink dianalisis~1.200 (per analisis: ~850–1.100)Kyoto University / Phys.org
Ketinggian orbit yang dipetakan~482 km (dibulatkan ~500 km)Kyoto University / SciTechDaily
Inklinasi orbit Starlink yang dipakai53 derajatEarth.com
Periode data dianalisis1–7 September 2025MLQ News
Jumlah analisis dijalankan19 kaliMLQ News
Interval data ephemeris1 menit, prediksi 72 jam, refresh ~8 jamMLQ News
Manuver terdeteksi pada dataset awal~80%MLQ News
Jurnal publikasiEarth, Planets and SpacePhys.org

Semua angka di atas berasal dari laporan resmi dan liputan media yang mengutip publikasi tim Kyoto University — bukan estimasi atau proyeksi internal.

Bagaimana Hasil Ini Divalidasi?

Perbandingan data Starlink dan satelit SWARM untuk validasi termosfer

Hasil pemetaan kepadatan termosfer dari data Starlink ini dibandingkan dengan data dari satelit SWARM milik ESA, yang secara khusus dirancang untuk mengukur perubahan kepadatan atmosfer sepanjang jalur orbitnya. Menurut laporan Phys.org dan ScienceDaily, pola kepadatan yang dihasilkan dari data Starlink menunjukkan konsistensi yang kuat dengan observasi SWARM.

Konsistensi ini penting karena SWARM adalah instrumen khusus yang dibangun untuk pengukuran in-situ, sementara data Starlink pada dasarnya adalah “produk sampingan” gratis dari konstelasi broadband komersial yang tujuan awalnya sama sekali berbeda — menyediakan internet, bukan riset atmosfer. Kesesuaian dua sumber data yang sangat berbeda karakternya ini menjadi bukti bahwa pendekatan tomografi berbasis data orbit publik dapat diandalkan.

Apa Temuan dari Studi Sebelumnya Tentang Badai Geomagnetik?

Badai geomagnetik dapat meningkatkan kepadatan termosfer dan memengaruhi satelit

Riset pemetaan dua dimensi ini merupakan kelanjutan dari studi sebelumnya oleh tim yang sama, yang memakai data Two-Line Element (TLE) — format data orbit publik yang lebih umum namun kurang presisi dibanding ephemeris — untuk mengamati bagaimana kepadatan termosfer berubah seiring waktu dan ketinggian.

Studi awal tersebut mencatat tiga kejadian peningkatan kepadatan yang signifikan, yaitu pada 8 Oktober, 11 Oktober, dan 18–20 Oktober 2024. Dua kejadian pertama berkaitan erat dengan badai geomagnetik, dengan perubahan kepadatan yang muncul di rentang ketinggian terluas dan berlangsung sekitar satu hari. Kejadian ketiga menunjukkan keterkaitan yang lebih lemah dengan gangguan geomagnetik, namun berlangsung selama beberapa hari dan terbatas pada ketinggian di atas 400 km.

Temuan ini menegaskan bahwa data TLE dan ephemeris Starlink kontemporer merupakan sumber data yang bernilai untuk memantau dinamika kepadatan termosfer dari waktu ke waktu — bukan hanya untuk snapshot geografis statis.

Manfaat Praktis untuk Masa Depan

Pemantauan termosfer membantu prediksi orbit dan keamanan satelit

Menurut tim peneliti, metode ini berpotensi mendukung pemantauan kepadatan atmosfer di sekitar satelit secara mendekati waktu nyata (near-real-time), yang pada gilirannya dapat memperkuat prakiraan cuaca antariksa (space-weather forecasting) dan membuat operasi ruang angkasa di masa depan lebih aman dan andal. Beberapa manfaat konkret yang disebut dalam liputan media meliputi:

  1. Prediksi orbit yang lebih akurat: kepadatan termosfer yang lebih presisi membantu memprediksi kapan dan seberapa cepat satelit akan kehilangan ketinggian akibat drag.
  2. Pengurangan risiko tabrakan: dengan orbit rendah Bumi yang makin padat oleh satelit dan puing antariksa, data kepadatan atmosfer yang lebih baik mendukung sistem penapisan tabrakan yang lebih andal.
  3. Prakiraan cuaca antariksa: pemantauan mendekati waktu nyata dapat membantu mengantisipasi dampak badai geomagnetik terhadap kepadatan atmosfer dan pergerakan satelit.

Keterbatasan Metode Ini

Keterbatasan cakupan data metode tomografi Starlink di lintang tinggi

Metode ini bukan tanpa celah. Inklinasi orbit Starlink sebesar 53 derajat meninggalkan kekosongan cakupan data di lintang tinggi (dekat kutub), sehingga peta kepadatan yang dihasilkan belum mencakup seluruh permukaan Bumi secara merata. Tim peneliti menyebutkan bahwa penyempurnaan di masa depan kemungkinan perlu menambahkan data dari satelit lain yang mengorbit pada shell atau inklinasi berbeda, agar cakupan lintang tinggi bisa terisi.

Model yang dipakai pada analisis awal ini juga masih menggunakan struktur orde terendah (empat koefisien spherical harmonics) dan hanya mempertimbangkan variasi diurnal (harian), belum memasukkan variabel musiman atau ketinggian vertikal yang bervariasi secara dinamis. Ini menunjukkan bahwa metode tomografi berbasis data Starlink masih berada di tahap awal pengembangan, meski hasil awalnya sudah cukup meyakinkan setelah divalidasi terhadap SWARM.

Baca Juga Bill Gates: Dari Anak Komputer Jadi Miliarder yang Mau Habiskan Kekayaannya

FAQ — Starlink sebagai Pemindai Atmosfer

Apa itu riset “Starlink jadi pemindai atmosfer”?

Ini adalah metode dari Kyoto University yang memakai data orbit publik sekitar 1.200 satelit Starlink untuk memetakan kepadatan termosfer Bumi di ketinggian sekitar 482 km, memakai teknik tomografi seperti pada pencitraan medis.

Siapa yang melakukan riset ini dan di mana dipublikasikan?

Riset dipimpin Mamoru Yamamoto dari Research Institute for Sustainable Humanosphere, Kyoto University, dan dipublikasikan di jurnal Earth, Planets and Space pada 2026.

Bagaimana hasil riset ini divalidasi kebenarannya?

Pola kepadatan atmosfer yang dihasilkan dibandingkan dengan data satelit SWARM milik ESA, yang dirancang khusus untuk mengukur kepadatan atmosfer, dan menunjukkan konsistensi yang kuat.

Apa manfaat praktis dari riset ini?

Metode ini berpotensi memperbaiki prediksi pergerakan satelit, mengurangi risiko tabrakan di orbit rendah Bumi yang makin padat, dan mendukung pemantauan kepadatan atmosfer mendekati waktu nyata untuk prakiraan cuaca antariksa.

Apakah metode ini punya keterbatasan?

Ya. Inklinasi orbit Starlink (53 derajat) menyisakan celah data di lintang tinggi, dan model yang dipakai saat ini baru mempertimbangkan struktur orde terendah serta variasi harian, belum variasi musiman penuh.


Sumber utama: Kyoto University, jurnal Earth, Planets and Space, serta liputan Phys.org, ScienceDaily, SciTechDaily, dan MLQ News